Kota yang Besar adalah Kota yang Menghargai Jasa Para Pahlawannya

LENGKONG, TANGSELPOS.com. Warga Tangsel harus berbangga hati, sejak diresmikannya Kota Tangerang Selatan pada tahun 2008, ternyata kota Tangsel memiliki bagian sejarah kepahlawanan dan perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Sejarah cerita kepahlawanan itu bisa kita lihat di monumen Palagan Lengkong, Monumen yang terletak di Jl. Soebianto, Lengkong Wetan Kota Tangerang Selatan.

Peristiwa Lengkong terjadi pada tanggal 25 Januari 1946. Peristiwa ini bisa dirunut akibat keras hatinya Jepang pada masa status quo akibat kekalahanya di perang Asia Pasifik.

Sebelumnya, pada tanggal 15 September 1945, Sekutu mendaratkan pasukannya di Tanjung Priok salah satu tugasnya yaitu melucuti semua persenjataan Jepang.

Sementara itu, TKR Resimen IV dan para taruna AMT yang berbasis di Tangerang masih kekurangan senjata berinisiatif untuk melucuti senjata Jepang lebih dahulu jangan sampai keduluan tentara sekutu. Terlebih sejak awal Januari 1946 sudah tersebar kabar bahwa serdadu Belanda sudah merangsek ke daerah Parung dan mengancam keamanan di Lengkong.

Sumber historia.id menceritakan; Dalam suasana itulah pada sore 25 Januari 1946 Direktur AMT Mayor Daan Mogot bersama beberapa perwira Polisi TKR Resimen IV Tangerang, delapan prajurit British India yang membelot, dan tiga truk taruna AMT mendatangi markas Jepang yang menempati rumah di perkebunan karet Lengkong. Saat negosiasi antara Mayor Daan Mogot dengan pimpinan pasukan Jepang Kapten Abbe berjalan, bunyi tembakan muncul dari dalam markas –hingga kini masih misterius siapa yang meletuskan tembakan itu.

Rumah peristiwa baku tembak antara TKR dan tentara Jepang

Para prajurit Jepang yang tengah bersantai pun masing-masing mengambil senjata dan membantai para perwira TKR dan taruna AMT yang minim persenjataan. Sekira 75 nyawa melayang. Antara lain Mayor Daan Mogot, Lettu Soebianto dan adiknya kadet Soejono, serta kadet Ahmad Sjawket, putra Wakil Menteri Luar Negeri RI Haji Agus Salim yang juga merupakan taruna AMT.

“Setelah mengetahui bahwa yang gugur itu taruna Akademi Militer Tangerang, Jepang merasa ketakutan, takut amukan rakyat yang akan mendukung TKR untuk balas dendam. Akhirnya diputuskan oleh pimpinan tentara Jepang di Lengkong untuk menyerahkan seluruh persenjataan kepada TKR. Maka tercapailah impian Daan Mogot yang dibayar dengan jiwanya,” tulis buku Album Kenangan Perjuangan Siliwangi.

Mayat mereka dikuburkan oleh para prajurit Jepang. Para petinggi Jepang di Jakarta kemudian mengizinkan perwakilan pemerintah RI untuk menggali makam mereka dan dimakamkan ulang di tempat yang lebih terhormat. Sebelum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Tangerang, upacara penghormatan diberikan kepada para kusuma bangsa. Selain dihadiri Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan sejumlah petinggi pemerintahan, upacara dihadiri Haji Agus Salim dan Margono Djojohadikoesoemo, sebagai keluarga korban.

Naman-nama yang gugur dalam peristiwa lengkong di abadikan di Tugu Monumen Palagan Lengkong Kota Tangerang Selatan

Dari cerita diatas tentunya kita sebagai warga Tangsel harus sadar ternyata sangat mahal harga sebuah kedaulatan. Kita hanya tinggal mengisi kemerdekaan ini sebagai wujud penghargaan terhadap pengorbanan mereka. Kita haruslah menghargai jasa-jasa para mereka, mengajak anak kita untuk jalan mengunjungi dan menceritakan semangat kepahlawanan mereka, agar dimasa yang akan datang kita tidak kehabisan stok orang-orang yang memiliki jiwa pahlawan. Karena ditangan anak cucu kita lah negara ini akan di pimpin.

(Visited 67 times, 1 visits today)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x