Rekonsiliasi dan Kejujuran, Kunci Indonesia Bisa Keluar Dari Krisis.

TANGSELPOS.com. Bangsa ini harus belajar dari sosok seorang Agus Widjojo, diusia yang belum genap 5 tahun Agus telah kehilangan sang ibunda tercinta, kemudian saat usianya menginjak 17 tahun, peristiwa berdarah G30S PKI telah merenggut ayahanda tercinta salah satu dari 7 pahlawan Revolusi Mayjen TNI Anumerta Sutojo Siwomihardjo.

Masih teringat jelas dalam benaknya bagaimana langkah derap sepatu pasukan Cakrabirawa memaksa masuk menculik membawa ayahandanya dibunuh di Lubang Buaya.

“Siapa yang tidak sedih, siapa yang tidak sakit hati, kenapa ayah saya dibunuh? bagaimana ayah saya dibunuh?, siapa yang membunuh ayah saya?, pertanyaan itu menggelayuti keseharian hidup saya, tapi sampai kapan saya harus begini?

Saya harus move on, tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan, dan dendam yang justru akan menghancurkan hidup saya, saya harus rasional, saya harus menentukan kepastian buat masa depan saya” begitu tutur Agus Widjojo Gubernur Lemhamnas RI jebolan AKABRI tahun 70 dalam acara Peluncuran buku “Tentara Kok Mikir”(25/08/21). Buku biografi perjalanan hidup dan gagasan-gagasan Letjen TNI purnawirawan Agus Widjojo.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh negara yang juga masih sahabat seperjuangan beliau saat meniti karir di jalur kemiliteran. seperti Luhut Binsar Panjaitan, Soesilo Bambang Yudhono, Hasan Wirayuda, juga tokoh-tokoh muda kaum mileneal.

Acara peluncuran buku “Tentara Kok Mikir”

Buku berjudul “Tentara Kok Mikir” ini selain berisi perjalanan hidup Agus, juga berisi ide ide gagasan beliau yang sangat berguna dan relevan dengan situasi permasalahan bangsa Indonesia saat ini.

Dikalangan militer Agus dikenal jendral yang suka berpikir out off the box, bahkan beliau pernah dianggap antek asing, penghianat dan nyeleneh. Ide gagasan beliau yang sempat heboh saat ia mengadakan rekonsiliasi putra putri korban tragedi G30SPKI. Bagaimana tidak, seorang yang ayahandanya menjadi korban justru mengusulkan di kumpulkan dan di pertemukannya anak-anak korban dan pelaku G30SPKI.

“Rekonsiliasi itu bukan ingin menyatakan siapa yang salah dan benar juga bukan mengkonfirmasi siapa yang kalah atau menang tapi rekonsiliasi untuk keberpihakan demi kepentingan bangsa menuju peradaban yang lebih maju. Dendam jangan sampai mengontrol hidup kita” tutur Agus.

Alissa Qotrunnada Wahid, anak dari Almarhum Gusdur juga memberikan tanggapannya bahwa “Agus Widjojo orang yang sangat Open minded, jujur dan terbuka, sosok seperti apa beliau bisa kita lihat dengan membaca buku ini, kalau semua komponen bangsa ini berani jujur seperti pak Agus, Indonesia pasti akan bisa keluar dari krisis, PR buat pak Agus harus bisa meregenerasi bagaimana agar di Indonesia ini banyak orang orang seperti pak Agus Widjojo” demikian tutur Alissa. (tgh)

0 0 votes
Article Rating

Tinggalkan Balasan

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x