Kelahiran Sastra Indonesia

Selama ini kita hanya mengenal dan menikmati beberapa karya sastra dari penulis-penulis terkenal dan sering  kita dengar, bahkan kita temukan dalam pelajaran bahasa Indonesia saat kita masih  di bangku sekolah. Ada beberapa penulis terkenal yang namanya sering kita dengar seperti Chairil Anwar, Wisran Hadi, Sapardi Djoko Damono dan lain-lain. Namun, kapan kita berpikir  sastra lahir? Lebih khusus lagi, kapan sastra Indonesia lahir?

Sebagai orang yang tertarik pada bidang sastra atau penikmat karya sastra, kita harus mampu menandingi masalah kecil dan pertanyaan sederhana yang mungkin muncul seperti ini dengan berpikir logis.

Kelahiran sastra Indonesia merupakan bagian dari sejarah sastra yang tentu saja terjadi di Indonesia. Hingga saat ini, penentuan awal mula lahirnya sastra Indonesia dan rujukan pada sebuah karya yang disebut  sastra Indonesia masih kontroversial. Hingga saat ini, para pengamat sastra dan sarjana memiliki pertimbangan yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan pendapat  mengenai lahirnya sastra Indonesia.

Manfaat penulisan artikel ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang kelahiran sastra Indonesia.

Di bawah ini merupakan pendapat kelahiran sastra dari para ahli, yaitu sebagai berikut:

Pendapat Kelahiran Sastra dari Para Ahli

  1. Umar Junus

Umar junus berpendapat bahwa sastra ada sesudah Bahasa ada. Dan karena Bahasa Indonesia baru ada tahun 1928 (dengan adanya sumpah pemuda), maka Umar Junus pun berpendapat bahwa “Sastra Indonesia baru ada sejak 28 Oktober 1928”.

  • Ajip Rosidi

Ajip berpendapat bahwa sastra lahir pada tahun 1922. Karena pada tahun itu terbit kumpulan sajak Muhammad Yamin yang berjudul Tanah Air. Kumpulan sajak ini pun, menurut ajip mencerminkan corak/semangat kebangsaan, yaitu tidak ada/tampak pada pengarang-pengarang sebelumnya.

  • A. Teeuw

Teeuw berpendapat bahwa kesusastraan Indonesia Modern lahir sejak tahun 1920. Alasannya adalah pada Ketika itulah para pemuda Indonesia untuk pertama kali mulai menyatakan perasaan dan ide yang pada dasarnya berbeda.

  • Slamet Mulyana

Slamet Mulyana melihat dari sudut lahirnya sebuah negara Indonesia adalah sebuah negara di antara banyaj negara di dunia. Bangsa Indonesia merdeka tahun 1945. Pada masa itu lahirlah negara baru di muka bumi ini yang bebas dari penjajah Belanda, yaitu negara Republik Indonesia. Secara resmi pula Bahasa Indonesia digunakan/diakui sebagai Bahasa nasional, bahkan dikukuhkan dalam UUD 1945 sebagai Undang-undang dasar negara.

Selain pendapat dari para ahli, ada beberapa Angkatan dari masa ke masa. Apa saja angkatannya? Yuk! Kita pelajari bersama.

Angkatan Pujangga Lama

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini, karya sastra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat.

Angkatan Balai Pustaka

Merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) serta puisi yang menggantikan kedudukan syair, pantun, guridam, dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Angkatan Pujangga Baru

Muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balap Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra pujangga baru adalah sastra intelektual, nasionalis, dan elitis.

Angkatan 1945

Karya sastra Angkatan ini lebih realistik dan banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastra Angkatan 1945 ini memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan Angkatan 1945 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.

Angkatan 1950-1960

Ditandai dengan terbitnya majalah sastra kisah asuhan H. B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya.

Angkatan 1966-1970

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada Angkatan ini. Banyak karya sastra yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, artiketip, dan absurd.

Angkatan 1980-1990

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan Wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu marga T. Karya sastra Indonesia pada masa ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Angkatan 2000

Ditandai dengan terbitnya buku leksikon, susastra Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 2000. Setarus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi, Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Herliany.

Penulis: Nabila, Mahasiswi Sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Semester 2

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x