Inovasi Pertanian pada Lahan Terbatas

Salah satu tantangan dan masalah terbesar pertanian di Indonesia adalah lahan pertanian yang semakin lama semakin sedikit. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan potensi luas lahan pada tahun 2021 sebesar 10,52 juta hektar sedangkan tahun 2020 sempat mencapai 10,66 juta hektar yang artinya mengalami penyusutan sebesar 0,14 juta hektar. Permasalahan ini diakibatkan karena adanya pengalihan fungsi dari lahan pertanian ke non-pertanian yang membuat semakin menyusutnya lahan pertanian indonesia dan hal ini terjadi setiap tahunnya.

Banyak faktor yang menyebabkan pengalihan lahan pertanian terjadi, diantaranya yaitu faktor ekonomi, banyakpemiliklahan yang dengan mudah menyerahkan lahannya kepada investor karena tergiur dengan harga yang ditawarkan oleh investor tersebut tanpa memperhatikan dampak dari hal tersebut yang kemungkinan besar akan menjadi pengalihan lahan pertanian, contohnya beralih menjadi lahan industri dan lain sebagainya.

Faktor lainnya bisa juga karena lahan pertanian yang menjadi harta waris, dimana lahan pertanian itu dibagikan kepada ahli waris dan biasanya yang terjadi adalah dengan alasan untuk mempermudah pembagiannya, maka lahan tersebut dijual kemudian hasil dari penjualan tersebut dibagikan kepada ahli waris atau bisa juga karena kurangnya kemampuan, keterampilan dan pengetahuan serta wawasan mengenai cara mengelola lahan pertanian sehingga banyak ahliwaris yang mendapatkan lahan pertanian tersebut tidak meneruskanya sebagai lahan pertanian atau bahkan tidak ada kemauan untuk berkecimpung dalam pertanian karena menilai pertanian itu ribet dan lain sebagainya. Hal inilah yang mengakibatkan penyusutan lahan pertanian di Indonesia terus terjadi.

Permasalahan tersebut tidak membuat semua petani menyerah begitu saja, Sebagian dari mereka menjadikan hal tersebut menjadi sebuah dorongan yang kuat dalam menumbuhkan ide-ide kreatif dari hasil pemikiran kritis mereka. Para petani menciptakan beberapa inovasi yang bertujuan untuk menangkal permasalahan tersebut, diantaranya yaitu pertanian vertikal, urban farming, indoor farming, dan pertanian tanpa tanah (aeroponik, aquaponik, hidroponik).

Mari kita bahas satu per satu dari inovasi-inovasi tersebut, mulai dari pertanian vertikal, kita tahu bahwa vertikal itu tegaklurus dari bawah ke atas atau sebaliknya, maka pertanian vertikal merupakan metode pertanian yang menanam tanaman secara vertikal atau biasanya disebut secara bertingkat dari bawah keatas.

Adapun kelebihannya, metode ini ramah lingkungan, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebab tidak memerlukan penggunaan traktor dan diesel sehingga secara otomatis penggunaan bensin dan solar akan berkurang. Selain itu, pertanian vertikal juga dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan produktivitas masyarakat, serta bisa menanam tanaman dengan jumlah yang banyak meskipun pada lahan yang sempit.

Selanjutnya, ada urban farming, yaitu melakukan kegiatan pertanian seperti budidaya, pemrosesan, dan distribusi produk pertanian di perkotaan dengan memanfaatkan ruang terbuka menjadi lahan hijau yang bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian. Dalam artian, urban farming menciptakan lahan hijau ditengah padatnya perkotaan.

Urban farming menerapkan sistem penanaman organik, dimana dalam prosesnya tidak menggunakan pestisida sintesis. Adapun keuntungan konsep ini, yaitu ramah lingkungan, dapat menghasilkan produk pertanian yang lebih bergizi sebab semakin pendek perjalanan distribusi pangan, maka gizi nya akan semakin terjaga. Dengan melakukan urban farming di rumah, kita bisa lebih hemat dan juga dapat mengurangi limbah dari rumah-tangga karena tanaman yang ditanam dengan urban farming bisa diberi pupuk dengan pupuk alami, seperti kompos dari sisa sampah dapur.

Berikutnya, indoor farming, sesuai dengan namanya yaitu indoor yang berarti dalam ruangan maka, indoor farming adalah cara bertani yang dilakukan di dalam ruangan sehingga tidak membuat para petani harus turun dan panas-panasan di sawah, sebab indoor farming dilakukan ditengah perkotaan. Adapun keunggulan dari indoor farming, dapat meningkatkan produktivitas, menghasilkan produk pertanian yang bebas dari hama,mengurangi biaya pemakaian tranportasi dan bahan bakar fosil, bisa dilakukan di gedung yang tinggi, serta tidak perlu takut gagal panen karena faktor cuaca, sebab indoor farming menggunakan sistem yang modern. Sedangkan kelemahannya yaitu biaya yang dibutuhkan tinggi dikarenakan menggunakan sistem teknologi yang canggih. Selain itu, kelembapan, cahaya, dan suhu harus dijaga dan dikontrol dengan tingkat tinggi.

Lalu, ada yang namanya pertanian tanpa tanah. Menanam tanaman tanpa tahah merupakan salah satu inovasi untuk mengatasi keterbatasan lahan dan kondisitanah yang kurangsubur, ada 3 metode yang bisa dilakukan dalam pertanian tanpa tanah.

Yang pertama yaitu metode aeroponik, metode ini menggunakan udara sebagai media tanam. Kelebihan dari metode ini yaitu, dapat menghemat air, tidak perlu mengolah lahan, tanaman tahan terhadap hama dan gulma, lebih cepat panen, dan juga tidak kenal musim.

Sedangkan kekurangannya, yaitu biaya yang dikeluarkan cukup mahal, bergantung pada listrik, dan sulit mendapatkan komponen.

Yang kedua, metode aquaponik, metode ini menggabungkan dua jenis budidaya yang berbeda, yaitu budidaya ikan dan tanaman secara bersamaan. Kelebihan dari metode ini, yaitu dapat menghasilkan dua produk sekaligus, hemat lahan, hemat air, bisa diatur sesuai kebutuhan.

Sedangkan untuk kekurangan dari metode ini, biaya untuk membeli peralatan mahal, bergantung pada listrik, dan membutuhkan perawatan ekstra.

Yang ketiga metode hidroponik, metodeini menggunakan air serta larutan nutrisi untuk menumbuhkan tanaman. Kelebihan dari metode ini, tidak membutuhkan tanah, media tanam dapat digunakan berulang kali, dan tanaman tumbuh lebih cepat.

Sedangkan kekurangan dari hidroponik, membutuhkan modal yang besar, sulit mencari perlengkapan, butuh perhatian ekstra, dan perlu keterampilan.

Nur Hamdani, warga Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, merupakan salah satu orang yang sukses dalam budidaya tanaman sayuran hidroponik. Sebab, pengalaman dari teman-temannya yang sukses dalam tanaman hidroponik, akhirnya Nur Hamdani berkecimpung pada sayuran hidroponik dengan memanfaatkan lahan yang ada di belakang rumahnya, iamembuat rumah kaca sendiri berukuran 8×18 meter dan mulai menanam berbagai jenis sayuran seperti bayam-merah, pokcay, sawi, dan yang lainnya. Nur mengahabiskan sekitar 60 juta untuk modal dalam membuat sarana tanaman hidroponik.

Adapun strategi penjualan yang dilakukan Nur yaitu bergabung dengan sejumlah petani sayuran hidroponik lainnya di Purwokerto.

Setelah hasil panen dikumpulkan, barulah dikirim ke hotel atau supermarket sesuai permitaan.

Lahan pertanian saat ini memang terbatas dan semakin menyusut. Namun, banyak inovasi yang sudah diciptakan sebagai solusi untuk permasalahan tersebut sehingga tidak ada lagi hambatan terhadap lahan yang terbatas untuk melakukan kegiatan budidaya pertanian sekalipun itu bagi masyarakat perkotaan.

Oleh karenaitu, disarankan untuk bisa memanfaatkan lahan yang sempit secara optimal untuk kegiatan pertanian, selain bisa membantu memenuhi kebutuhan pangan secara pribadi, hal tersebut juga sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bisnis yang menjanjikan.

Penulis: Fina Maulidina Salsabila

Mahasiswi Agribisnis UIN SyarifHidayatullah Jakarta

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x