Penolakan Terhadap Nasi Padang Babi

“Adat basandi syara’, syara’ sasandi Kitabullah”

“Adat basandi syara’, syara’ sasandi Kitabullah” Kalimat tersebut merupakan suatu landasan filosofi atau prinsip hidup masyarakat Minangkabu sejak berabad – abad lalu, yang dalam Bahasa Indonesia berarti “adat bersendi syariat dan syariat bersendi kitab Allah SWT”.

Tetapi, landasan filosofi ini mulai ramai dibicarakan oleh publik lantaran munculnya sebuah berita mengenai pebisnis di Jakarta yang menjual masakan khas Padang yang menggunakan daging babi sebagai olahan daging dalam masakannya.

Hal ini langsung menimbulkan kontroversi terutama terhadap mayoritas masyarakat suku Minangkabau yang menilai bahwa hal ini tidak layak, menyinggung, serta merusak citra makanan khas Minangkabau.

Tetapi, terdapat juga masyarakat – masyarakat yang menganggap hal tersebut hanyalah hal biasa apalagi karena bisnis tersebut dilakukan di Jakarta dan bukan di daerah Minangkabau, lantas apa yang menjadi penyebab munculnya pemikiran – pemikiran ini? Penolakan serta Alasan Rasa “tidak terima” masyarakat Minangkabau ini berasal dari bagaimana masyarakat suku Minangkabau menjalani kehidupan sehari – hari, yang dimana dilansir dari Media Indonesia masyarakat suku Minangkabau menjalani kehidupan dengan mengikuti aturan yang datang dari perpaduan antara nilai – nilai Islam dan adat istiadat Minangkabau, sehingga dapat dikatakan masyarakat suku Minangkabau hidup berlandaskan nilai – nilai ajaran agama Islam yang melekat dalam budaya atau adat Minangkabau yang dibawa dimanapun mereka berada.

Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah menyatakan bahwa sudah bertentangan dengan falsafah masyarakat Minangkabau “Ini tidak boleh terjadi karena masakan Padang Penolakan Terhadap Nasi Padang Babi atau masakan Minang itu identik dengan makanan halal sesuai dengan falsafah dan adatnya yang berlandaskan Islam,”

Mahyeldi juga menekankan bagi semua restoran atau Rumah makan Padang harus memiliki sertifikasi dari IKM yang bertujuan untuk memperjelas mana rumah makan Padang yang asli,

“Intinya, tidak boleh ada masakan Padang yang non halal. Pastikan semua masakan Padang itu halal dan dapat dikonsumsi umat muslim”.

Pakar kuliner William Wongso menyatakan di Media Indonesia bahwa “Nasi Padang yang orang tahu itu kan masakan halal ya, kalau mau dicampur dengan daging babi, ya baiknya nggak usah disebut nasi Padang,”. William Wongso juga menyatakan bahwa ia juga pernah menjadikan daging kuda sebagai olahan untuk rendang tetapi ia tidak menyebutnya sebagai Masakan Padang karena makanan tersebut non-halal.

Sebagai salah satu masyarakat Minangkabau yang telah tinggal dan dibesarkan di Padang selama 19 tahun saya memahami bagaimana masyarakat setempat menghormati, serta memegang erat budaya dan aturan – aturannya. “Adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah” telah menjadi hal yang wajib diikuti masyarakat suku Minangkabau kapanpun, dan dimanapun mereka berada. Amarah, rasa tersinggung, dan tidak terima terhadap Nasi Padang Babi ini merupakan hasil dari perbuatan yang tidak sensitif dari pebisnis tersebut dimana produk yang ia jual secara langsung dan tidak langsung menyinggung dan merusak citra masakan Padang yang Halal.

Penulis : Dominito Danand Jaya, Warga Foresta BSD

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x