Pembunuh Senyap Warga Tangsel

Pencemaran lingkungan adalah masalah yang nyata terjadi, permasalahan hajat hidup orang banyak yang mengharuskan semua pihak berkontribusi. Sebagai generasi muda yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa selanjutnya, saya prihatin dan keprihatinan ini dituliskan dalam bentuk surat pembaca.

Pencemaran lingkungan banyak macamnya, salah satunya polusi udara. Penyebab polusi udara wilayah kota sangat banyak, mulai dari asap kendaraan bermotor hingga pembakaran pabrik. Sebagai pembunuh senyap wilayah kota, polusi udara memiliki dampak yang berbahaya. Mulai dari kerusakan sel dalam tubuh, kanker otak, kanker paru-paru, asma, hingga ISPA.

Pada tahun lalu, media banyak memberitakan bahwa Tangerang Selatan menjadi kota dengan polusi udara tertinggi se-Asia Tenggara berdasarkan catatan IQAir. Meski data terbaru yang terakhir saya akses pada Jumat (15/04/2022 pukul 03.00) menunjukkan Hanoi sebagai kota berpolusi tertinggi di Asia Tenggara, Indonesia tetap menjadi negara polusi tinggi di Asia Tenggara dengan kota Jakarta dan Jabodetabek sebagai pusatnya. Pada Jumat (15/04/2022 pukul 16.00), Kota Tangerang Selatan memiliki konsentrasi PM2.5 7,6 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

Hal ini disebabkan, utamanya oleh asap kendaraan. Sebagai warga Tangerang Selatan sudah seharusnya kita mencari jalan keluar dari masalah ini dengan menghilangkan sifat egois dan apatis kita pada lingkungan hidup. Kita harus mulai peduli tentang dampak polusi tinggi pada kelompok sensitif dan angka harapan hidup.

Sebagai solusi, masyarakat harus mulai rajin menanam pohon dan menumbuhkan budaya jalan kaki. Pemerintah pusat dan daerah juga harus mulai sadar bahwa isu ini adalah masalah yang penting dan genting. Peran pemerintah dapat dengan membuka ruang terbuka hijau, taman kota, dan membuat kebijakan yang pro lingkungan hidup dengan matang. Bukan hanya ribut masalah politik di tingkat elite dan mendengar aspirasi hanya saat pemilihan. Diharapkan proyek yang pro lingkungan juga tidak dikorupsi sekecil apa pun.

“Bukankah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia adalah tujuan negara? Apakah tujuan tersebut sudah tercapai? Sejauh mana itu tercapai?” Pertanyaan-pertanyaan yang harus para pejabat dan masyarakat jadikan refleksi.

Masyarakat global sudah mulai melek pada isu ini. Pada Jumat (15/04/2022), tagar #LetTheEarthBreath bertengger di trending Twitter. Hal ini menandakan bahwa bumi yang kita tinggali memang sedang tidak baik-baik saja. Sudah saatnya kita peduli pada bumi ini, tanah yang kita pijak pertama kali, air yang kita minum pertama kali, semua diberikan Tuhan melalui bumi pertiwi ini. Saya berharap kita semua lebih sadar bahwa menjaga bumi adalah suatu keharusan, bukan hanya untuk hari ini tetapi juga untuk masa depan.

Penulis: Fiqor Bella Insani

Mahasiswa Program Studi Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x