Tantangan Koperasi Pasca Pandemi Covid-19: Apakah “Perusahaan Kecil Penyelamat Hajat Masyarakat” ini Semakin Membaik?

Kondisi pandemi Covid-19 yang lalu telah menjadi sebuah tantangan besar bagi semua koperasi di seluruh nusantara untuk berusaha maju dan berkembang. Dalam menjalankan usahanya, memang tidak mudah bagi perusahaan kecil ini untuk bertahan, dengan banyaknya batasan – batasan yang diberlakukan, Peran koperasi di negeri ini sebagai wadah pelaku usaha dan juga sumber permodalan adalah tantangan yang berat yang wajib dilewati. Wajar saja banyak koperasi kandas di tengah jalan pasca diterjang pandemi yang berlangsung selama dua tahun lamanya.

Berdasarkan Sistem Data Online (ODS) pada 31 Desember 2020 silam, banyak ditemukan koperasi yang mengalami penurunan modal dari instansi itu sendiri dan modal dari luar instansi sehingga sangat berpengaruh terhadap likuiditas koperasi, dan tidak sedikit pula koperasi yang melaporkan kesulitan dalam hal operasional, karena disebabkan oleh anggotanya tidak sanggup membayar cicilan, dan kapasitas overload dari sisi simpan pinjam yang terjadi dikarenakan saking banyaknya dari anggota maupun customer yang menarik simpanan di koperasi. Di sisi lain, terjadi pula peningkatan pengaduan dari anggota mengenai perselisihan atas penyelesaian pinjaman yang bermasalah. Banyaknya pinjaman bermasalah tersebut sebagai akibat dari aktivitas usaha anggota maupun masyarakat yang gulung tikar atau bangkrut dan akhirnya tutup lapak sebagai salah satu dampak dari pandemi Covid-19.

Koperasi sebagai lembaga ekonomi sekaligus sebagai lembaga sosial yang dioperasionalkan dengan prinsip bisnis secara efisien, dengan begitu koperasi bisa mendorong efisiensi bisnis menjadi benefit setiap member. Orientasi bisnis koperasi adalah pelayanan yang dilakukan terhadap anggota, bukan laba atau keuntungan. Sebagai lembaga social itu sendiri, koperasi berupaya untuk menolong koperasi itu sendiri dan para anggotanyadengan penuh rasa responsibility yang besar.

Kondisi pandemi kala itu menjadi tantangan besar bagi koperasi untuk dapat tetap eksis menjalankan usahanya. Peran koperasi sebagai wadah pelaku usaha dan sumber permodalan di negeri ini telah dihadapkan pada tantangan berat. Di masa pandemi, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi oleh pihak koperasi. Pertama, menurunnya tingkat penjualan dan permintaan pasar. Kebijakan pemerintah untuk membatasi pergerakan manusia saat pandemi lalu tentunya sangat memukul kegiatan-kegiatan usaha koperasi. Menurunnya tingkat permintaan pasar, terganggunya proses produksiProduk, dan terhambatnya distribusi adalah berbagai konsekuensi logis dari sebab akibat kondisi pandemi. Tapi disisi lain, transaksi perdagangan elektronik justru mengalami peningkatan selama pandemi. Hal ini tentunya bisa menjadi peluang bagi koperasi untuk bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi melalui digitalisasi koperasi.

Tantangan yang kedua adalah masalah likuiditas. Kondisi pandemi tidak hanya berdampak pada koperasi secara kelembagaan, tetapi juga kepada jajaran anggota. Banyak anggota koperasi yang kesulitan membayar iuran anggota. Bahkan didalam konteks koperasi simpan-pinjam, para anggota begitu kesulitan untuk membayar angsuran-ansuran yang mereka buat, seiring dengan itu pula banyaknya anggota yang mengambil iuran sukarela untuk kebutuhan pada saat berada di masapandemi. Akibatnya, koperasi terkendala likuiditas yang mengakibatkan terciptanya cikal bakal kebangkrutan usaha.

Urutan ketiga ada inovasi produk. Pada masa pandemi, banyak pelaku usaha yang gulung tikar dikarenakan permintaan pasar turun drastis. Menciptakan produk kreatif dan inovatif sesuai kebutuhan pasar adalah strategi koperasi terbaik demi menjaga keberlangsungan usaha, misalnya dalam konteks produsen, koperasi melakukan inovasi produk berdasarkan kebutuhan konsumen saat itu adalah strategi bertahan di tengah-tengah pandemi. Contoh kasus yang bisa dilihat adalah; Koperasi batik beralih untuk memproduksi masker kain bermotif yang saat itu dibutuhkan masyarakat. Melalui sentuhan seni dan kreativitas, masker batik tidak hanya menjadi sekadar masker kain biasa, tetapi juga masker yang membawa nuansa budaya.

Peningkatan kualitas produk atau jasa hasil inovasi penting untuk meningkatkan daya saing usaha. Dengan memanfaatkan kekuatan teknologi dan informasi, perbaikan kualitas produk dan kapasitas produksi bisa digunakan secara kolektif, didukung pula oleh sertifikasi produk. Agregasi pembiayaan juga mrerupakan pilihan yang tepat dalam rangka meningkatkan pertumbuhan koperasi. Pengembangan kapasitas manajemen tidak dapat diabaikan, harus diwujudkan melalui pemberian pelatihan, konsultasi dan pendampingan oleh para ahli.

Sejarah telah mencatat bahwa  koperasi telah berjasa pernah menyelamatkan Indonesia keluar dari krisis. Berawal dari sejarah krisis moneter yang terjadi pada 1997-1998, tahun itu membuktikan bahwa koperasi dapat menjadi “pahlawan ekonomi” melalui kiprahnya. Hal itu dikarenakan kalau koperasi tidak sekedar mencari keuntungan semata, melainkan ada nilai-nilai yang sederhana namun powerful, seperti kekeluargaan dan gotong royong terkandung didalamnya. Itulah yang menjadi titik perbedaan koperasi dengan badan usaha lainnya, sehingga tidak mengherankan jika koperasi dapat bertahan pada waktu krisis keuangan. Harapan yang sama juga sedang digenggam oleh seluruh masyarakat di Indonesia pada masa pandemi lalu. Pengimplementasian nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang dilakukan oleh koperasi diharapkan dapat tetap menjaga eksistensi dan menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat Indonesia.

Penulis: Muhammad Zen Pratama

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x