Waspada, Cuaca Sore dan Malam Hari di Tangerang Selatan

TANGSELPOS.com – Beberapa hari ini, keadaan cuaca di Tangerang Selatan dan sekitarnya agak ‘galau’ dari yang biasanya.  Saat saya berkendara di sekitar Bintaro Sektor 9 Daerah Jombang sekitar pukul 14.10 WIB.  Saat itu, cuaca tiba-tiba berubah mendung dan turun hujan skala lebat dengan angin kencang. Namun saat saya tiba di Bintaro Sektor 3 justru sebaliknya cuaca masih terang tanpa hujan dengan kondisi awan mulai mendung dan sepertinya hujan dari sektor 9 Bintaro mulai bergerak ke arah Bintaro Sektor 3. Sedangkan jarak antara Sektor 9 dan sektor 3 Bintaro tidak terlampau jauh hanya sekitar 3-4 km saja.

Secara garis besar, pola cuaca yang terjadi beberapa hari belakangan  di sekitar Tangerang Selatan  kondisi cuacanya cerah dan panas sepanjang pagi hingga pukul 12.00 dan cuaca berubah mendung menjelang siang ke sore hari bahkan malam hari. Dari pengamatan beberapa hari ini, kondisi tersebut masih berlangsung hingga hari ini.

Kondisi Klimatologis Tangsel

Sesuai dengan pola gerak semu tahunan matahari, saat ini matahari berada di wilayah belahan bumi utara.  Hal ini membuat wilayah di daerah utara equator (Benua Asia) mengalami pemanasan yang tinggi sehingga memiliki tekanan udara lebih rendah. Sebaliknya kondisi di daerah selatan equator (Benua Australia) mengalami musim dingin sehingga memiliki tekanan udara yang lebih tinggi.

Perbedaan tekanan udara tersebut menyebabkan terjadinya aliran udara dari daerah bertekanan tinggi (Benua Australia) menuju daerah bertekanan rendah (Benua Australia) yang sering disebut sebagai Angin Muson Timur (the southwest monsoon). 

Angin muson timur membawa lebih sedikit uap air karena angin yang bertiup banyak berasal dari daerah gurun pasir yang bersifat kering di bagian utara Australia dan juga melewati laut hindia yang sempit. Itulah sebabnya ketika terjadi angin muson timur, maka wilayah Indonesia bagian barat dan pulau Jawa mengalami musim kemarau, termasuk wilayah Tangerang Selatan.

Kapan musim hujan dan musim kemarau di Tangsel

Berdasarkan grafik curah hujan rata-rata dari Stasiun Klimatologi Banten di Pondok Betung, daerah Tangerang Selatan memiliki pola hujan monsun (Monsoon) dimana terlihat perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau dan tipe curah hujan yang bersifat unimodial

Unimodial artinya bahwa pola curah rata-rata di Tangerang Selatan memiliki satu puncak musim hujan yaitu pada bulan Desember, Januari dan Februari (DJF).

Sebaliknya puncak musim kemarau di Tangerang Selatan terjadi secara umum pada Juli, Juni dan Agustus (JJA). Mengacu pada data curah hujan rata-rata di Pondok Betung (30 tahun data), maka untuk bulan September dapat dikatakan sebagai bulan transisi berakhirnya Monsun Timur dan bulan awal menuju musim penghujan di Tangerang Selatan.

Penyebab hujan konveksi di Tangsel

Sekarang kita akan membahas lebih dalam tentang pola cuaca yang terjadi akhir-akhir ini di wilayah Tangerang Selatan. Dari mekanisme terjadinya hujan, maka hujan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: hujan konveksi (zenithal), hujan orografis dan hujan frontal.  Secara fisis, intensitas dan luasan wilayah hujan maka jenis hujan yang terjadi di Tangerang Selatan akhir-akhir ini adalah jenis hujan konvektif (zenithal).  

Hujan Konveksi (zenithal) yaitu jenis hujan yang paling sering terjadi di daerah tropis.  Secara mekanisme,  jenis hujan ini disebabkan karena uap air naik secara vertical terkait peristiwa konveksi.  Kondisi umum sebelum terjadinya hujan konveksi yaitu adanya tingkat pemanasan Matahari dalam jumlah besar di wilayah tertentu (biasanya perkotaan). 

Mengapa cuaca pagi selalu cerah dan baru sore/malam harinya baru turun hujan? Saat suasana pagi cerah tak berawan, pemanasan maksimum terjadi di sebuah lokasi. Ketika suhu tempat tersebut meningkat, maka kondisi tersebut berpengaruh pada penurunan tekanan udara.

Dan daerah dengan tekanan udara rendah akan menjadi daerah tujuan angin sebab angin bergerak dari tempat dengan tekanan udara tinggi menuju tempat dengan tekanan udara lebih rendah. Hal tersebut akan menyebabkan terjadi peningkatan curah hujan pada daerah bertekanan rendah. 

Kenaikan suhu akan membuat udara menjadi ringan kemudian naik secara vertical membentuk awan-awan konvektif.  Ketika awan bergerak vertikal ke atas,  awan tersebut akan menyebar dan kehilangan panas, pada ketinggian tertentu akan terbentuk awan konvektif.

Awan-awan konvektif tersebut akan terkondensasi yang apabila sudah jenuh akan turun sebagai hujan konvektif. Hujan konveksi memiliki karakter umum berupa intensitas curah hujan yang tinggi, namun hujan berlangsung dalam durasi relative singkat dan cakupan wilayah kejadiannya tidak terlalu luas (skalalokal). Hujan jenis ini memang banyak terjadi pada bulan-bulan peralihan musim kemarau ke hujan dan sebaliknya.

Untuk menghindari dampak hujan konveksi, masyarakat perlu lebih peduli terhadap informasi cuaca yang diberikan oleh BMKG. Informasi BMKG dapat diakses langsung melalui website, media sosial termasuk aplikasi smartphone: INFOBMKG. 

Melihatkondisi cuaca akhir-akhir ini maka masyarakat dapat mempersiapkan jas hujan, jaket dan payung apabila berpergian dengan sepeda motor dan angkutan umum. Hindari berpergian sore dan malam hari sehingga tidak terjebak hujan, macet dan banjir.  Karena hujan konveksi sering disertai dengan petir, ada baiknya juga untuk berhati-hati atau berteduh ketika cuaca memburuk.  Selamat berjaga-jaga.

Penulis : Yahya Darmawan, PhD

Dosen jurusan Klimatologi, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Tangerang Selatan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Contact Us

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x